Newsletter
Email:
Poll: Jajak Pendapat
Bagaimana Menurut anda situs KP4D.ONLINE yang baru ini?
BERANDA | PRESS RELEASE | Training KP4D Tahun 2007

Training KP4D Tahun 2007

Font size: Decrease font Enlarge font
image Saat Training KP4D akan dimulai

Direktorat Prakarsa Pembangunan Partisipatif, Kedeputian Bidang Perumahan dan Permukiman, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD – NIAS, Nanggroe Aceh Darussalam, menyelenggarakan Training KP4D (Komite Percepatan Pembangunan dan Permukiman Desa) dengan tema: “Mendorong Peningkatan Kapasitas dan Kualitas Melalui Perencanaan Gampong untuk Mendukung Proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Tsunami”.

Maksud dan tujuan training, yakni: untuk meningkatkan keterampilan personal kepada pengurus KP4D di wilayah-wilayah kegiatan Asperkim dan meningkatkan kesadaran pengurus terhadap pentingnya keterlibatan masyarakat dan desa dalam proses pembangunan desanya, sehingga nantinya diharapkan akan mampu meningkatkan nilai tawar lembaga dalam upaya percepatan proses rehab-rekon perumahan dan permukiman desanya. Untuk mempelajari managemen dan teknik ketrampilan administrasi dan pengelolaan organisasi, seperti: pembuatan laporan, managemen keuangan, pembuatan proposal, melakukan lobi dan negosiasi kepada lembaga donor, Pemda, Akademisi, dan sebagainya. Disamping itu, untuk menjalin hubungan silaturrahmi antar pengurus KP4D.

Training KP4D ini dilaksanakan selama dua hari, sudah dilaksanakan sebagai berikut:
1. 1 s/d 2 Agustus 2007 Hotel Rajawali - Banda Aceh, asal peserta KP4D Wilayah Sabang dan Aceh Besar
2. 2 s/d 3 Agustus 2007 Hotel Lading - Banda Aceh, asal peserta KP4D Wilayah Aceh Besar
3. 3 s/d 4 Agustus 2007 Hotel Cakradonya - Banda Aceh, asal peserta KP4D Wilayah Banda Aceh
4. 4 s/d 5 Agustus 2007 Hotel Lading - Banda Aceh, asal peserta KP4D Wilayah Pidie
5. 14 s/d 15 November 2007 Hotel Meuligou - Meulaboh, asal peserta KP4D Wilayah Aceh Jaya
6. 15 s/d 16 November 2007 Hotel Tiara - Meulaboh, asal peserta KP4D Wilayah Aceh Barat
7. 16 s/d 17 November 2007 Wisma Ariani - Meulaboh, asal peserta KP4D Wilayah Nagan Raya


TRAINING KP4D Tanggal 1 - 2 Agustus 2007

PROSES DAN PENGELOLAAN PELATIHAN

Proses training ini difasilitasi oleh Agus Halim Wardana dan Azanuddin Kurnia alias Zein, berasal dari ED Walhi Aceh. Adapun alur dan materi yang ditawarkan, yaitu: penyampaian materi perencanaan partisipatif dan perencanaan gampong dan wilayah, analisis sosial atau ANSOS; menyusun program kerja dan membuat proposal, diakhiri dengan rencana tindak lanjut. Metode yang digunakan dalam proses training adalah presentasi materi dan tehnik-tehnik brain storming, diskusi kelompok dan tanya jawab untuk mendapat umpan balik, serta menggunakan video film berbagai alat bantu, overhead projector, papan tulis, flipchart, dan lain-lain.

Perencanaan Gampong adalah cara mengelola Gampong secara bersama dan untuk mencapai cita-cita bersama, oleh karenanya dalam perencanaan Gampong harus melibatkan masyarakat dan berbagai pihak, seperti: aparat desa dan tokoh masyarakat lainnya, bekerjasama dan berdiskusi untuk mendapatkan keputusan yang baik. Perlu orang yang dapat dipercaya dan aturan yang disepakati untuk melakukan kegiatan perencanaan. Diperlukan pemetaan dan identifikasi potensi gampong. Perencanaan Gampong dapat dibuat dalam jangka pendek, menengah dan panjang.

Disampaikan pada Analisa Sosial (Ansos), pada dasarnya Ansos merupakan upaya untuk menempatkan suatu masalah tertentu dalam konteks realitas sosial yang lebih luas yang mencakup konsep waktu, konteks struktur (ekonomi, sosial, politik, budaya), konteks nilai, dan konteks tingkat atau aras lokasi (lokal dan global). Hal ini bermanfaast untuk memahami persoalan yang berkembang secara mendalam dan seksama, mengetahui kelompok masyarakat yang dirugikan, untuk mengetahui potensi dan tindakan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah.

Materi pelatihan pembuatan proposal didiskusikan secara berkelompok komponen dan susunan dalam proposal serta tehnik-tehnik penyajiannya, terdiri dari: halaman judul, latar belakang masalah, tujuan dan hasil yang diharapkan, metode yang akan dijalankan, Gambaran kegiatan, Sumber daya yang diperlukan, tujuan dan hasil yang diharapkan, indikator keberhasilan, anggaran biaya, monitoring dan evaluasi, lampiran. Proposal biasanya mengikuti keinginan donor, misalnya dengan menggunakan bahasa Inggris. Terpenting dalam pembuatan proposal adalah realitas objektif, tujuan yang akan dicapai dan anggaran yang masuk akal. Disamping itu, kita perlu mendesak lembaga donor untuk memperhatikan proposal kita dengan cara melobi.

REKOMENDASI
  1. Mendesak pihak Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh – Nias untuk segera merehabilitasi dan membangun rumah korban bencana gempa dan tsunami sesuai kebutuhan masyarakat korban dan standar kelayakan paling lambat Desember 2007.
  2. Mendesak pihak Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, dan Pemerintah Kota Sabang agar menyediakan lahan bagi korban bencana tsunami yang belum memiliki lahan dan rumah.
  3. Mendesak BRR Aceh – Nias agar mengakui KP4D berada di bawah struktur BRR Aceh – Nias dengan segera mengeluarkan Surat Keputusan.
  4. Mendesak BRR Aceh – Nias agar memberikan hak-hak KP4D, seperti: insentif, biaya operasional dan fasilitas kegiatan lainnya yang diperlukan dalam menunjang program kerja KP4D.
  5. BRR Aceh – Nias sesudah menetapkan SK KP4D harus memberikan penjelasan atas fungsi dan tugas KP4D kepada tenaga KP4D.
  6. Mendesak BRR Aceh – Nias agar memberikan penjelasan dan mempublikasikan melalui media setiap kebijakan BRR kepada semua masyarakat Aceh
  7. BRR Aceh-Nias dan Pemerintah Daerah harus memperbaiki kinerjanya dalam melakukan proses rehabiitasi dan rekonstruksi pembangunan rumah.
Rekomendasi ini akan di tanda tangan oleh semua peserta juga menuliskan alamat peserta, semoga ini menjadi catatan pada pihak yang terkait dan catatan penting kalau ini ditolak kita akan ada langkah tersendiri.

Harapan dan Rencana untuk Pegembangan Pengetahuan dan Keterampilan Peserta, yakni:
  1. Adanya pelatihan khusus penulisan proposal yang berkualitas
  2. Penataran yang berkaitan dengan KP4D
  3. Ada pelatihan komputer dan fasilitas yang khusus diperuntukkan untuk KP4D
  4. Diadakan studi banding
  5. Adanya pemberdayaan masyarakat /pengorganisasian
  6. Membahas sistem informasi di tingkat gampong dan di tingkat kecamatan
  7. Apa yang dimiliki setelah training KP4D dapat disosialisasikan
  8. Adanya pelatihan KP4D di gampong masing-masing KP4D
  9. Ada pertemuan lanjutan untuk KP4D
  10. Ada papan informasi untuk masyarakat di setiap gampong
Pelatihan KP4D ditutup oleh Bapak Amirullah. Pada kesempatan tersebut peserta berharap agar rekomendasi peserta dapat disampaikan kepada BRR. Bapak Amirullah akan memfasilitasi peserta jika berkeinginan bertemu pihak BRR dan akan menyampaikan rekomendasi peserta, serta mengharapkan pembelajaran yang sudah diperoleh dapat bermanfaat.


TRAINING KP4D Tanggal 2 - 3 Agustus 2007

PROSES DAN PENGELOLAAN PELATIHAN

Proses training ini difasilitasi oleh Eeng Darmi dari JKMA Aceh dan Affan berasal dari Pro Delat. Fasilitator menawarkan alur dan materi pelatihan, yaitu: memahami apa itu proposal dan pelaporan, analisis masalah, memahami daur program dan rencana tindak lanjut. Metode yang digunakan dalam proses training adalah pendidikan orang dewasa, belajar dari pengalaman peserta, menguraikan permasalahan, melakukan analisis, menyimpulkan dan merumuskan tindakan yang akan dilakukan. Untuk memperlancar proses digunakan tehnik-tehnik brain storming, diskusi kelompok dan tanya jawab untuk mendapat umpan balik, permainan serta menggunakan berbagai alat bantu, overhead projector, papan tulis, flipchart, dan lain-lain.

Proses pelatihan yang berlangsung selama dua hari dapat berjalan lancar menurut waktu dan materi yang direncanakan, partisipan dapat aktif dalam seluruh bagian dari proses kegiatan. Terdapat penyimpangan dan perubahan materi kegiatan, yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta, misalnya materi ditambahkan dengan materi pengembangan media untuk kampanye.

Pada hari pertama, peserta membahas topik Pembuatan Proposal, yang bertujuan untuk memahami tujuan proposal, yakni: menjadi alat KP4D dalam menggalang dana yang bersumber dari lembaga-lembaga di luar masyarakat dan dana pulik, serta untuk meningkatkan kapasitas dan ketrampilan KP4D dalam menyusun proposal. Dirumuskan dalam diskusi kelompok, komponen Proposal mencakup sembilan hal, yakni: (1) Latar belakang, mendeskripsikan informasi dasar di kampong, permasalahan yang dialami dan kondisi lainnya; (2) Penerima manfaat, menguraikan masyarakat yang akan menerima manfaat menurut jenis kelamin, dan lain-lain (3) Waktu kegiatan dimulai dan selesai (bisa jadi ada, bisa tidak); (4) Tujuan, apa yang akan dicapai dengan adanya proyek ini; (5) Hasil, apa kondisi ideal yang akan dihasilkan; (6) Struktur organisasi; (7) Rincian kegiatan; (8) Rincian anggaran (Dokumen pendukung. Seperti KTP, KK, foto, dll); (9) Penutup, memuat rangkuman proposal dan harapan.

Dalam pembuatan proposal dan pelaporan, diperlukan kemampuan menjelaskan dan menguraikan secara jelas, padat dan singkat, berbagai komponen dalam proposal, latar belakang, tujuan dan hasil, serta sasaran harus relevan dan dianalisa, menetapkan struktur pelaksana program yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan, mempertegas bagaimana program ini dapat bertanggung jawab, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pihak yang menjadi sumber pendanaan, memuat pengalaman organisasi dan selalu melakukan koreksi dan memperkaya ide dan komponen dalam proposal. Dalam penulisan laporan ditambahkan dengan hasil monitoring dan evaluasi program.

Media Kampanye sebagai alat masyarakat untuk menyampaikan berbagai informasi situasi yang ada di Gampong, kasus yang dihadapi masyarakat dan sebagainya. Media ini ditujukan kepada publik luas. Dalam pembuatan media, digunakan susunan dan bahasa yang mudah dimengerti, ada alat bantu pertanyaan yang dapat dikembangkan menjadi informasi, seperti: apa masalahnya, dimana, kapan, bagaimana, mengapa, siapa dan seterusnya. Disamping itu, kita harus mengenali media publik lainnya yang dapat bekerjasama, seperti media massa dan agen-agennya, perlu sekali untuk mendapatkan alamat-alamat kontak mereka.

Pada training ini, peserta mendiskusikan sebuah wadah yang disebut asosiasi, yang berperan untuk melakukan komunikasi antara KP4D dalam rangka mempercepat pembangunan perumahan dan memperjuangkan pemenuhan kebutuhan KP4D lainnya. Peserta memilih Perwakilan tingkat Kecamatan untuk menjadi Kontak Person Asosiasi yang bertugas sebagai penghubung.

PERWAKILAN KP4D KECAMATAN
  1. Lhong – Mustawa 085277963246
  2. Leupung – Ilyas 081360271115
  3. Lhoknga – Wahiddun 081360965900
  4. Peukan Bada – Maimun 081534220381
  5. Mesjid Raya - Syahrul Ramadhan 085277336700
  6. Darussalam – Amirullah 081360090832

REKOMENDASI
  1. Sosialisasi Asosiasi
  2. Mendatangi BRR bagian perumahan dan infrastruktur untuk memperjelas pembangunan rumah
  3. Melakukan konfrensi Pers menyampaikan masalah perumahan

RENCANA TINDAK LANJUT
  1. Setiap peserta yang hadir mempunyai tanggungjawab untuk menyampaikan hasil dalam lokakarya dan training, serta mensosialisasikan Asosiasi KP4D yang sudah terbentuk.
  2. Perwakilan KP4D Kecamatan akan melakukan pertemuan pada Hari Rabu, 8 Agustus 2007, untuk membahas dan mendetailkan Rekomendasi yang sudah dihasilkan.
  3. Membahas materi Konferensi Pers, pada Hari Senin, 6 Agustus 2007.

TRAINING KP4D Tanggal 3 - 4 Agustus 2007

PROSES DAN PENGELOLAAN PELATIHAN

Proses training ini difasilitasi oleh Lukman Hakim dan Samsul Aqmari. Fasilitator menawarkan materi pelatihan, mencakup: analisis sosial, pembuatan proposal, monitoring dan evaluasi, akuntabilitas organisasi dan managemen keuanga. Metode yang digunakan, yakni: presentasi, brain storming, diskusi kelompok dan tanya jawab untuk mendapat umpan balik, serta berbagai alat bantu, seperti: overhead projector, papan tulis, flipchart, dan lain-lain.

Pada hari pertama peserta mendiskusikan tema analisa sosial dan pengenalan diri dan organisasi KP4D, dan melakukan pelatihan pembuatan proposal, seluk beluk dan penyusunan proposal. Kebanyakan peserta tidak mempunyai pengalaman dalam pembuatan proposal. Disampaikan oleh pelatih Lukman Hakim, untuk membuat proposal ada sistematikanya dan daur rancangan kegiatan berupa asessment, bertujuan untuk mencari tahu masalah di gampong dan mengumpulkan data persoalan yang akan digunakan dalam penyusunan proposal.

Dalam diskusi kelompok peserta merumuskan susunan proposal, mencakup: judul aktifitas, profil organisasi, latar belakang dan masalah, tujuan dan aktifitas yang akan dilakukan, indikator keberhasilan kegiatan, kelompok sasaran dan penerima manfaat, penanggungjawab dan pelaksana kegiatan, anggaran kegiatan, waktu dan tempat. Fasilitator mengajak peserta berlatih membuat proposal dengan mengunakan panduan susunan proposal yang sudah dibuat dan berdiskusi isi proposal. Disamping itu dibahas, perlunya monitoring atau pemantauan terhadap kegiatan, system monitoring dilakukan dengan cara membuat laporan secara berkala yang berguna untuk menjadi bahan kegiatan dalam melakuakan evaluasi program dan dalam melakukan kerjasama dengan lembaga dana, dilakukan dengan mempertimbangkan etika dan adat istiadat di masyarakat, serta mengenali visi dan misi lembaga yang menjadi alamat tujuan proposal kita. Ulama di kampong dan bahkan seluruh masyarakat diajak terlibat dalam membicarakan dan memutuskan isi proposal. Lembaga dapat melakukan lobbi untuk memastikan bahwa gagasan dalam proposal dapat diterima dan dipahami lembaga donor.

Pada hari kedua, peserta membahas dan melakukan pelatihan topik monitoring dan evaluasi program. Monitoring dan evaluasi (Monev) adalah kegiatan yang dilakukan untuk melihat dan mengawasi perjalanan program kita, mengetahui kemajuan dan capaian program, serta kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan program. Monev dapat dilakukan dengan membentuk tim Monev yang bertugas melakukan pemantauan dan penilaian. Biasanya lembaga pendukung mempunyai tim Monev dalam melakukan penilaian program. Monev dapat dilakukan melalui pertemuan berkala, melakukan wawancara, kujungan lapangan ke lokasi program dan sebagainya.

Pertanggungjawaban pengelolaan keuangan seringkali menjadi issu yang paling sensitive dalam kegiatan Monev. Idealnya, laporan keuangan yang disertai dengan dokumen pendukung yang detail dapat dipersiapkan pada saat Monev. Hal ini akan menjadi penilaian bagi lembaga donor terhadap tanggungjawab dan kemampuan organisasi dalam mengelola program. Serta dapat membangun dan menjada kepercayaan lembaga donor dalam melakukan kerjasama di masa mendatang.

HARAPAN PESERTA

Dalam pelatihan KP4D ini, peserta training dari Gampong Lamgugop, Kecamatan Syah Kuala, Kota Banda Aceh, yang mengusulkan kegiatan kongkrit Pembuatan Sumur Bor dan MCK, agar dapat difasilitasi oleh BRR. Pengadaan sumur bor dan MCK dikarenakan sumber air yang ada terasa asin dan tidak layak konsumsi, yang dapat menimbulkan penyakit. Pembangunan sumur bor dan MCK diharapkan dapat dimanfaatkan untuk air bersih dan meningkatkan pendapatan perempuan yang berprofesi sebagai tukang cuci.


TRAINING KP4D Tanggal 4 - 5 Agustus 2007

PROSES DAN PENGELOLAAN PELATIHAN

Proses training ini difasilitasi oleh Mussanurvan (Ivan) dan Abdul Munir dari BDSP. Fasilitator menawarkan materi pelatihan, mencakup: analisis sosial dan keberadaan organisasi, pembuatan proposal, analisis anggaran dan menggalang sumberdaya, monitoring dan evaluasi. Metode yang digunakan, yakni: presentasi, brain storming, diskusi kelompok dan tanya jawab untuk mendapat umpan balik, serta berbagai alat bantu, seperti: overhead projector, papan tulis, flipchart, dan lain-lain.

Pembukaan Training dilakukan oleh Bapak Amirullah dari Direktorat Prakarsa Pembangunan Partisipatif BRR Aceh - Nias. Pada hari pertama, fasilitator mengajak peserta melakukan Analisis Sosial (Ansos), sebagai tahapan penting untuk tujuan menemukan relasi-relasi sosial yang terjadi di balik suatu gejala, peristiwa, atau masalah tertentu. Kegunaan Ansos untuk dapat mengetahui intervensi social apa yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan. Hal yang dilakukan dalam Ansos, adalah memetakan permasalahan yang terjadi, memetakan berbagai pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut, memetakan profile atau karakteristik dari masing-masing pihak yang terlibatm memetakan posisi dari setiap pihak yang terlibat terhadap permasalahan yang mereka hadapi bersama, memetakan penyelesaian masalah dari sudut pandang pihak-pihak yang terlibat dalam masalah tersebut. Dalam memilah masalah sosial harus melihat secara keluasan/keseluruhan, Kedalaman untuk memahami dasar masalah, kecenderungan untuk mengetahui masalah apa yang saat ini sedang popular, menganalisa masalah sosial dan dampak jangka panjang (negatif atau positif), penyebab, pelaku/korban dan nilai yang berkembang.

Keberadaan organisasi, visi, misi, nilai dari lembaga dan struktur organisasi, sangat terkait dengan bacaan dan analisis social yang kita lakukan, yakni: sejauhmana keterkaitan organisasi dengan masalah social dan menjadi focus perhatian kita. Organisasi mengharapkan aspirasi masyarakat terhadap kondisi ideal yang diharapkan dapat terpenuhi. Dari kondisi ideal dan korban akan tercipta visi suatu organisasi. Dari solusi ideal dan pelaku akan tercipta misi suatu organisasi. Dari nilai dominan yang timbul akan tercipta nilai.

Fasilitator menyampaikan pengetahuan dasar tentang pembuatan proposal, yakni mengawali dengan penilaian kebutuhan yang bertujuan untuk memahami permasalahan (kemendesakan, kecenderungan dan kemandegan) dan untuk mengumpulkan data-data dasar. Tetapkan satu masalah inti untuk membantu anda melakukan analisis-analisis sebab akibat selanjutnya, analisis tujuan atau pemecahan masalah. Buatlah pernyataan positif dari semua pernyataan negatif dalam analisis masalah, tambahkan tindakan-tindakan baru yang akan dihasilkan. Misalnya, dalam advokasi: “Partisipasi masyarakat dalam monitoring dana publik rendah.” Alternatif untuk menetapkan strategi intervensi yang akan dilakukan lembaga sesuai kemampuan sumberdaya yang dimiliki.

Pembuatan proposal memerlukan kerangka berpikir atau disebut Logical Framework (Logframe) sebagai alat bantu untuk mengembangkan strategi intervensi menjadi desain proyek yang operasional. Di dalam logframe terdapat: Tujuan akhir yang akan dicapai (goal); Tujuan antara yang akan dicapai (purpose); Tindakan yang perlu dilaksanakan; Indikator & alat verifikasi untuk monitoring & evaluasi; Asumsi atau resiko yang perlu diperhatikan.

Hal-hal yang perlu dilakukan dalam menulis proposal: Relevan dengan fokus program dan masalah social; Logis: kaitan yang jelas antara masalah, intervensi, dan kegiatan; Singkat: lembaga donor tidak banyak waktu untuk membaca semua proposal; Informatif: masalah sosial, tujuan, strategi, kegiatan, biaya, timeframe, monitoring-evaluasi; Sertakan tool atau lampiran yang sesuai: logframe, pengalaman proyek yang serupa, pengenalan ringkas lembaga, dan sebagainya.

Anggaran merupakan ungkapan sikap bertanggungjawab dan keterbukaan sebuah organisasi dengan kegiatannya. Penyusunan anggaran dalam periode tertentu yang disusun berdasarkan pengalaman pada periode sebelumnya atau untuk periode yang akan datang dan berdasarkan kemampuan ekonomis saat ini. Managemen pembiayaan terdiri dari: (a) Biaya Program, yang mencakup biaya operasional dan biaya personil; serta (b) Biaya Investasi. Adapun strategi mobilisasi dana, yakni: 1. Kapitalisasi sumber daya non uang; 2. Mengembangkan sumber dana sendiri; 3. Mengakses Sumber Dana. Hal yang perlu dalam mobilisasi dana, bahwa lembaga perlu mengupayakan sumber dana berasal dari beberapa sumber sekaligus. Semakin banyak sumber semakin baik.

Dalam penggalangan sumberdaya dan pendanaan adalah penting untuk menarik perhatian public, misalnya: dengan merekrut dan melibatkan “orang besar”, melaksanakan kegiatan yang tidak biasa dan menarik perhatian public, memastikan semua kegiatan lembaga diketahui oleh publik (mass media, public relation). Hal ini dikarenakan, kemauan orang dan lembaga memberikan dana dikarenakan pengalaman dan kesan pribadi/ lembaga dana terhadap masalah sosial yang menjadi fokus lembaga, atau karena pengaruh opini publik (publisitas), orang menyumbang saat momen khusus (ulang tahun, bencana, dan sebagainya), menyumbang karena image dan track record.

MONITORING DAN EVALUASI

Pada hari kedua, dibahas topik monitoring dan evaluasi (Monev) yang merupakan alat manajemen internal untuk mengontrol proses dan kinerja organisasi dan program. Monitoring adalah kegiatan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi dari kemajuan proyek yang dilakukan secara berkala, yang tujuannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas suatu proyek atau organisasi dan dapat menjadi lebih bertanggungjawab, serta efektif dalam mengambil keputusan. Monitoring dilakukan berdasarkan pada target dan rencana pada saat perencanaan. Sedangkan evaluasi adalah untuk melakukan penilaian, pemeriksaan dan membandingkan realisasi kegiatan dengan target rencana yang dibuat. Sifat evaluasi lebih khusus yang dilakukan secara berkala saat proyek sedang dan setelah adanya kegiatan, dilakukan dengan alat dan ukuran keberhasilan dan kegagalan, capaian tertentu dan dampak dari proyek. Evaluasi dapat menunjukkan efektivitas, efisiensi dan dampak pelaksanaan proyek. Kegiatan evaluasi dapat dilakukan oleh staf proyek maupun pihak-pihak yang terkait, masyarakat dan kadang–kadang dengan batuan tim dari luar.

Selain metode Monev yang konvensional, terdapat pula metode Monitoring dan Evaluasi Partisipatif (MEP), yang melibatkan banyak pihak terkait dalam proyek untuk melakukan monev. MEP bertujuan untuk meningkatkan rasa kepemilikan & tanggung jawab, peningkatan kapasitas untuk merencanakan, mengambil keputusan, bertindak, dan melanjutkan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan pihak-pihak yang terlibat dalam proyek. Proses MEP harus didesain sederhana, terbuka, fleksibel menyesuaikan dengan konteks lokal & perubahan lingkungan. Secara spesifik MEP akan memampukan komunitas untuk: Menentukan apa yang mereka perlu capai; Merefleksikan apa yang mereka miliki (asset) & sejauh mana pemanfaatannya; Mengetahui tindakan apa yang perlu diambil; Menentukan perubahan apa yang harus terjadi.

EVALUASI DAN HARAPAN DI MASA DATANG
  1. Proses pelatihan dapat berlangsung stabil, akan tetapi dalam pelatihan terdapat kekurangan alat pendukung, seperti tidak adanya peralatan komputer yang memadai untuk menjadi alat peserta dalam menyusun proposal dan mempresentasikan hasilnya.
  2. Peserta berharap adanya pelatihan serupa dapat diberikan secara khusus di daerah Merek (Pidie) dengan waktu yang cukup hingga dapat langsung menghasilkan Proposal Perencanaan Gampong dan dapat diterapkan.
  3. Peserta juga meminta pelatihan dengan materi Pemberdayaan Ekonomi Micro.
  4. Peserta meminta BRR segera dapat membantu hibah komputer bagi KP4D guna melancarkan Proses Pembuatan Perencanaan Gampong dan pendataan berbagai perkembangan sosial  yang terjadi di gampong.
 
TRAINING KP4D Tanggal 14 s/d 15 November 2007
Hasil kegiatan masih dalam tahap editing 
 
TRAINING KP4D Tanggal 15 s/d 16 November 2007
Hasil kegiatan masih dalam tahap editing 
 
TRAINING KP4D Tanggal 16 s/d 17 November 2007
Hasil kegiatan masih dalam tahap editing
 
Tambah ke: Add to your del.icio.us del.icio.us | Digg this story Digg

Komentar ( dikirim):

Beri Komentar comment

Masukkan kode gambar yang anda lihat pada gambar dibawah ini:

  • email Email to a friend
  • print Cetak
  • Plain text Plain text
Tags
Rate this article
3.67
Powered by KP4D CMS