Korban Tsunami Kecam Kuntoro, Demonstran Bertahan di Masjid
Meski kami sudah empat hari di sini (Banda Aceh -red), tapi karena pernyataan Kuntoro seperti itu, maka kami tetap bertahan di sini, sebelum dia datang menjelaskan maksud statemennya di media massa secara objektif, kata Juru Bicara Gepena, Rahmat Hidayat, dalam jumpa pers di halaman Masjid Kemukiman Lueng Bata, Banda Aceh, Minggu (6/4).
Sebagaimana diberitakan kemarin, Kepala Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Bapel BRR) NAD-Nias, Kuntoro Mangkusubroto, melalui media internal Direktorat Komunikasi BRR mengatakan, pihak BRR tak mungkin mengubah kebijakan bantuan sosial perbaikan rumah korban tsunami di pantai barat-selatan, sebagaimana yang telah ditetapkan, yaitu Rp 2,5 juta kepada penerima manfaat.
Pasalanya, kata Kuntoro, dalam pernyataannya itu, rumah korban tsunami tersebut yang sebelumnya mangalami rusak ringan telah diperbaiki para pemiliknya.
Menurut Rahmat Hidayat, pernyataan Kepala Bapel BRR NAD-Nias itu telah merusak hasil rekomendasi bersama yang ditandatangani Gubernur Aceh, dua pimpinan DPRA, serta Kepala Pengendalian dan Pengalihan Aset Perumahan dan Permukiman BRR NAD-Nias, Wisnu Broto, yang dikeluarkan tanggal 5 April 2008 setelah mereka dan para mahasiswa mendatangi Pendapa Gubernur Aceh.
Isi kesepakatan itu ada empat poin. Pertama, BRR akan mendata ulang seluruh korban tsunami secara profesional, kemudian mengumumkan secara terbuka di media massa batas waktu pendaftaran, berkomitmen membayar Rp 15 juta bagi yang benar-benar korban tsunami, dan berkewajiban membayar transportasi kepada 300 korban tsunami yang masih bertahan di Masjid Luengbata sampai sekarang.
Kalau demikian pernyataan Kuntoro, itu sama saja dengan merusak hasil rekomendasi bersama itu. Sekarang, kami desak Pemerintah Aceh untuk menanggapi pernyataan Kuntoro tersebut, cetus Rahmat.
Selain itu, lanjut Rahmat, Gubernur Irwandi harus benar-benar memperjuangkan keadilan untuk korban gempa dan tsunami di kawasan pantai barat-selatan secara nyata hingga tuntas, bukan dengan pernyataan di atas kertas belaka. Bila belum tuntas, kami tetap bertahan di Banda Aceh, tegas Rahmat.
Sebagaimana diketahui, sekitar 300 korban tsunami dari pantai barat-selatan, sejak Rabu (2/4) malam tiba di Banda Aceh dan langsung menuju Masjid Luengbata, Banda Aceh. Kamis (3/4) mereka menunda demo, karena masih menunggu datangnya demonstran lainnya yang ingin bergabung.
Jumat (4/4) pagi mereka menggelar demo di depan Kantor Pusat BRR NAD-Nias untuk menuntut dana rehab sebesar Rp 15 juta per KK sebagaimana dijanjikan BRR sebelumnya, bukan Rp 2,5 juta per KK yang kini hendak disalurkan BRR. Demo dihentikan menjelang shalat Jumat, setelah itu dilanjutkan hingga Jumat petang.
Sabtu (5/4), karena BRR libur, para pengunjuk rasa yang di antaranya terdapat wanita setengah baya, mendatangi Pendapa Gubernur Aceh, sehingga keluarlah rekomendasi bersama itu. (muk/is)
Sumber : Serambi Indonesia



del.icio.us
Digg
Komentar ( dikirim):
Beri Komentar