MENU
Poll: Jajak Pendapat
Bagaimana Menurut anda situs KP4D.ONLINE yang baru ini?
Ratusan Warga Demo BRR
Di samping itu, mereka meminta badan yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto itu untuk mengklarifikasi ulang data rumah yang akan diberikan dana rehab, karena ada beberapa desa yang belum terdata dalam daftar yang dipublikasi BRR di media massa akhir bulan lalu.
Aksi demo yang dimulai pukul 09.00 WIB itu berlangsung tertib. Para demonstran yang sudah berada di Banda Aceh sejak dua malam lalu, bergerak menunju BRR dari Masjid Jamik Luengbata dengan berjalan kaki. Sementara Kantor Pusat BRR yang berjarak dari posko pendemo hanya sekitar 800 meter kemarin dikawal ratusan aparat kepolisian.
Setiba di lokasi, para pengunjuk rasa tidak berhasil menerobos masuk ke dalam kompleks kantor, sehingga mereka hanya berorasi di luar pagar. Setelah sempat meneriakkan yel-yel dan mendesak BRR untuk memberikan dana rehab rumah Rp 15 juta/unit, sekitar pukul 10.45 WIB dua petinggi BRR menjumpai para pengunjuk rasa. Utusan BRR itu adalah Wakil Sekretaris Bapel BRR, Faisal Putra SH dan Direktur Komunikasi, Juanda.
Pertemuan yang berlangsung hanya sepuluh menit itu, tidak membuahkan hasil apa pun. Faisal Putra yang berbicara di dalam pagar kompleks kantor BRR menjelaskan alasan mengapa badan tersebut hanya bisa memberi dana rehab sebesar Rp 2,5 juta/rumah. Belum habis mantan pengacara GAM itu bicara, langsung disuruh berhenti oleh pengunjuk rasa.
Kalau Bapak memberi penjelasan untuk pembenaran Rp 2,5 juta itu, lebih baik jangan bicara di sini dan silakan pergi, teriak seorang pengunjuk rasa di luar pagar.
Faisal Putra sebelumnya menjelaskan, BRR awalnya memperoleh data bahwa yang harus diberi dana rehab itu totalnya 84.000 rumah, dengan rincian 64.000 rumah di Aceh dan 20.000 rumah di Nias. Kemudian, setelah dilakukan verifikasi ulang, angka itu turun menjadi 42.000 rumah di Aceh. Maka data itu kami nilai error, katanya.
Menurut Faisal Putra, BRR tidak memiliki cukup dana untuk memberikan biaya rehab sebesar Rp 15 juta/rumah, sebab untuk rumah sebanyak itu harus tersedia dana Rp 1,4 triliun lebih. Tapi kalau 9.000 rumah mungkin mampu diberikan sesuai tuntutan itu, kata Faisal kepada Serambi, usai menemui para pengunjuk rasa.
Menjelang shalat Jumat para demonstran bergegas meninggalkan Kantor Pusat BRR. Kuntoro yang mereka harap menemui mereka tak kunjung ke luar, karena mantan Mentamben itu kabarnya sedang di Jakarta, sekembali dari Arab Saudi, memenuhi undangan Raja Arab.
Kemudian, sekitar pukul 14.00 WIB seusai shalat Jumat para demonstran kembali lagi ke kantor tersebut dengan tertib. Setelah melakukan aksi selama setengah jam, pihak BRR meminta 15 utusan dari pengunjuk rasa untuk memasuki kantor tersebut guna melakukan negosiasi.
Dalam negosiasi hampir satu jam yang dipimpin Faisal Putra dan juga hadir Direktur Komunikasi, Juanda serta staf BRR lainnya, seperti Barlian AW dan Irfan Sofni, tetap saja tidak dicapai solusi yang kompromistik.
Di mata tim negosiator dari pihak demontrasn, pihak BRR yang hadir dalam musyarawah itu tidak mampu mengabulkan tuntutan yang mereka ajukan, Rp 15 juta/rumah.
Setelah sempat berdebat alot, utusan demonstran bersedia menerima uang rehab Rp 2,5 juta/rumah, tapi dengan catatan tarik kembali dana yang telah diberikan kepada korban di Aceh Besar dan Banda Aceh sebesar Rp 15 juta/rumah. Kami ingin terima dana yang ditawarkan BRR, tapi untuk dua kabupaten itu ditarik kembali supaya BRR bisa berlaku adil. Kalau tidak ini namanya BRR tidak adil, teriak seorang ibu yang menjadi utusan para pengunjuk rasa.
Karena negosiasi tak menemukan solusi bersama, para utusan pengunjuk rasa ke luar dari tenda putih yang merupakan ruang kantor Direktur Komunikasi BRR. Raut wajah mereka tampak kecewa. Sebelum ke luar, mereka sempat meminta pada staf BRR untuk diperbolehkan masuk ke dalam kompleks kantor tersebut dan membuat tenda untuk menginap hingga Kuntoro pulang.
Kami tidak akan pulang sebelum tuntutan kami dipenuhi, teriak seorang demonstran saat melangkahkan kakinya ke luar dari tenda putih itu, sementara di luar pagar kantor BRR teriakan ratusan pengunjuk rasa makin membahana dengan berbagai yel-yel.
Pukul 18.30 WIB, menjelang azan magrib berkumandang, para pengunjuk rasa membubarkan diri dari kantor BRR dan kembali ke kompleks Masjid Jamik Luengbata sebagai tempat mereka menginap sejak dua malam lalu. Ada isu, para pengunjuk rasa itu bakal melakukan aksinya kembali hari ini, meski BRR libur.
Sementara itu, sebuah sumber di BRR menyebutkan, dana rehab rumah korban bencana yang dialokasikan untuk tahun ini sebesar Rp 85 miliar. Padahal, dana tersebut awalnya mencapai Rp 135 miliar. Saya tidak tahu mengapa bisa menciut lagi dana itu menjadi Rp 85 miliar, ujar sumber tersebut sembari mengatakan dana itu selama ini tidak pernah tersalurkan.
Masih menurut sumber, awalnya kebijakan di BRR untuk dana rehab akan disalurkan secara bervariasi. Artinya, warga yang rumahnya rusak berat akan diberikan maksimal Rp 15 juta, sedangkan kerusakan di bawah itu Rp 12,5 juta, Rp 10 juta, Rp 7,5 juta, Rp 5 juta, hingga ada yang memperoleh Rp 2,5 juta apabila kerusakannya ringan.
Untuk penyaluran dengan sistem berjenjang ini sudah sempat dibuat pentunjuk teknis oleh Deputi Perumahan BRR. Tapi saya tidak tahu mengapa tiba-tiba rencana tersebut dibatalkan. Ini yang aneh, ujar sumber tersebut.
Anggota DPR RI, Farhan Hamid yang dikonfirmasi Serambi tadi malam meminta BRR agar benar-benar memerhatikan aspirasi para korban bencana sesuai tuntutan yang mereka ajukan itu. Untuk bisa merealisai tuntutan itu semua, sarannya, BRR harus melakukan verifikasi ulang data rumah yang sudah diumumkan tersebut. Saya kira penyaluran bantuan dengan sistem berjenjang itu merupakan solusi yang tepat, sarannya.
Farhan berharap BRR tidak menciptakan persoalan baru di Aceh yang rakyatnya kini sedang mereguk hidup damai setelah konflik tiga dasawarsa. Tolong cari jalan keluar yang membuat rakyat merasa dilindungi dan dihargai, pintanya. (sup)
Sumber : Serambi Indonesia (http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&rubrik=1&topik=45&beritaid=45445)
Rate this article



del.icio.us
Digg
Komentar ( dikirim):
Beri Komentar