Newsletter
Email:
Poll: Jajak Pendapat
Bagaimana Menurut anda situs KP4D.ONLINE yang baru ini?
BERANDA | REHAB DAN REKON | Sebagian Demonstran Pulang, Jemput Massa untuk Demo Lagi

Sebagian Demonstran Pulang, Jemput Massa untuk Demo Lagi

Font size: Decrease font Enlarge font
Sementara itu, Kantor BRR NAD-Nias yang terletak di Luengbata, Banda Aceh, kemarin sore didatangi seratusan pengunjuk rasa dari Desa Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Mereka mendesak lembaga yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto itu segera merampungkan puluhan rumah warga yang terbengkalai selama tiga tahun terakhir di Alue Naga.

Kepada Serambi, Juru Bicara Gerakan Pejuang Nasib (Gepena), Rahmat Hidayat, membenarkan 90 korban tsunami asal barat-selatan telah kembali ke desa masing-masing. Tapi mereka akan kembali lagi ke Banda Aceh dengan membawa massa yang lebih besar untuk menggelar aksi besar-besaran ke Kantor Pusat BRR NAD-Nias pada Senin (21/4) mendatang, katanya menjawab Serambi, Kamis (10/4) petang, di kompleks Masjid Jamik Luengbata.

Menurut Rahmat, meski 90 korban gempa dan tsunami sudah pulang, namun 107 orang lainnya masih tepat bertahan di Banda Aceh. Kami bertahan di sini sampai tuntutan untuk mendapatkan dana rehab rumah Rp 15 juta/unit dikabulkan BRR, tegasnya.

Difasilitasi BRR

Diakuinya, kepulangan sebagian korban tsunami asal Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Barat Daya (Abdya) itu kemarin, difasilitasi BRR dengan membayar ongkos sepuluh unit mobil L-300 dan memberikan uang makan Rp 7,5 juta.

Namun, menurut Rahmat, meski biaya kepulangan diberikan pihak BRR, namun tekad mereka menggelar aksi besar-besaran ke Kantor Pusat BRR pada Senin mendatang tidak bakal surut. Dana rehab rumah Rp 15 juta adalah harga mati bagi korban tsunami, timpalnya. Di tempat terpisah, juru bicara korban tsunami asal Desa Calok, Pandrah, Kabupaten Bireuen, Eko Saputra dan Ishak Yusuf, mengatakan hingga hari ketiga mereka bergabung dengan korban tsunami asal pantai barat-selatan di kompleks Masjid Leungbata, pihaknya telah menerima bantuan sebuah tenda dari dinsos dan bahan logistik bantuan hamba Allah.

Kami masih lihat perkembangan selanjutnya tentang tuntutan kami ini apakah dipenuhi Rp 7 juta oleh BRR. Kalau tidak dipenuhi, mungkin massa dari Bireuen juga akan datang lebih banyak lagi. Sekarang saja mereka sudah minta datang. Tapi kami telah minta mereka bersabar dan menunggu hasil dari perjuangan kami, kata Eko.

Warga Alue Naga

Seratusan korban tsunami dari Desa Alue Naga, Banda Aceh, Kamis (10/4) sekira pukul 16.00 WIB menyerbu Kantor Pusat BRR NAD-Nias di Luengbata. Pengunjuk rasa mendesak BRR segera merampungkan pembangunan puluhan rumah warga yang terbengkalai selama tiga tahun terakhir di desa mereka.

Kehadiran massa secara mendadak sempat membuat petugas keamanan terkejut. Warga datang menumpangi minibus labi-labi dan langsug menerobos masuk ke dalam pekarangan kantor BRR.

Massa yang terdiri atas perempuan dan anak-anak itu langsung menuju gedung belakang, tempat bidang perumahan BRR berkantor. Ketika memasuki kawasan itu sejumlah wanita menghujat BRR. Bahkan mereka sempat adu mulut dengan salah seorang staf BRR yang hendak menenangkan massa.

Kami tidak mau bersabar lagi, sudah tiga tahun rumah kami telantar. Kenapa proyek yang lain sangat cepat dibangun? Tapi kami yang langsung korban di pinggir pantai malah tidak dipedulikan. Apakah setelah BRR angkat kaki dari Aceh baru akan dibangun tukas seorang ibu dengan nada tinggi.

Geuchik Alue Naga, Sayuthi AR, menyebutkan 89 unit rumah di Dusun Musafir dan Bunot, sampai kini masih terbengkalai. Sedangkan 129 rumah lagi rumah yang akan dibangun CRS yang lahannya disediakan BRR sampai sekarang belum terealisasi. Itu sudah berlangsung tiga tahun, kami sudah cukup bersabar, ujarnya.

Menanggapi hal itu, sesaat kemudian, tiga staf BRR menggelar pertemuan dengan sepuluh delegasi warga. Namun, staf BRR itu kabarnya tidak berkompeten menjawab permasalahan yang dihadapi korban tsunami itu. Sebab, yang berwenang menanggapinya adalah bidang perumahan. Namun, setelah lama ditunggu, pejabat BRR yang terkait urusan perumahan tidak jua datang.

Perwakilan warga yang dipimpin Geuchik Sayuthi AR tetap menyampaikan aspirasi mereka terkait puluhan rumah yang telantar. Warga juga mengancam akan menduduki BRR jika pembangunan rumah mereka tidak segera dirampungkan.

Setelah satu setengah jam beraksi, ratusan warga yang masih bertahan di luar ruangan berteriak hingga memunculkan suara gaduh. Massa kemudian mendekat ke arah ruang digelarnya pertemuan. Tapi sejumlah aparat kepolisian yang berjaga-jaga di sekitar lokasi langsung bergerak mengamankan pintu tempat pertemuan.

Situasi sempat melunak ketika Kompol Robin AS, kepala perwira pengamanan BRR ke luar. Ia kemudian kembali lagi bersama beberapa staf BRR, termasuk di antaranya Wakil Deputi Perumahan, Joko.

Pertemuan lanjutan kembali digelar. Kali ini melibatkan kontraktor pelaksana dari perusahaan Kebun Buana Abadi (KBA) yang mengerjakan 89 unit rumah di Alue Naga.

Dalam pertemuan itu, warga kembali menegaskan keinginan mereka agar rumah korban tsunami yang masih tinggal di barak segera dirampungkan. Kami tidak lagi mau terbuai dengan janji-janji seperti yang selama ini. Masa sudah tiga tahun kami masih terus begini? Coba kalau proyek seminar di Medan dan Jakarta, pasti selalu siap cepat dilaksanakan BRR. Ingat, pejabat BRR dapat gaji besar karena orang tua kami mati akibat tsunami, kata seorang warga lainnya.

Menurut Geuchik Sayuthi AR, pihak BRR melalui Satker Perumahan, Ir Muzni, Rabu (9/4) pernah berjanji akan memerintahkan kontraktor segera mengirimkan pekerja guna membangun kembali rumah yang telantar itu. Tapi sampai sore ini, hal itu tidak terealisasi. Padahal, kami sudah kemarin sore ingin menginap di BRR sampai rumah kami dikerjakan dengan benar, ujarnya.

Wakil Deputi Perumahan BRR, Joko mengatakan sudah memahami keinginan warga Alue Naga. Pihaknya juga berjanji akan segera merampungkan pembangunan rumah tersebut, termasuk memutuskan kontrak dengan kontraktor yang becus kerja. Namun, ini kan butuh waktu lagi, ada masa jedanya, sebut Joko.

Meski telah mendapat jawaban dari beberapa pejabat BRR yang hadir dalam pertemuan itu, warga yang diwakili Geuchik Sayuthi AR menyatakan belum puas. Karena itu, warga menyatakan akan menduduki BRR sampai ada kegiatan di lapangan terhadap pembangunan rumah mereka.

Pernyataan warga sempat mencengangkan pejabat BRR dan petugas keamanan. Kompol Robin AS yang hadir dalam pertemuan sempat meminta warga untuk tidak mewujudkan keinginan mereka bermalam di BRR.

Bersamaan dengan azan magrib, massa bubar untuk melaksanakan shalat jemaah di masjid kompleks BRR. Usai shalat, warga kembali menyatakan komitmennya untuk bermalam di sana. Ya, kami akan bermalam di sini, kata Sayuthi.

Namun, pihak kepolisian yang betugas di BRR melalui Kompol Robin AS terus melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat Alue Naga. Ini kan sudah malam, bapak-bapak juga tidak mengantongi izin. Apalagi ini sudah melewati pukul 18.00 WIB, secara undang-undang tidak dibolehkan. Kalau mau datang besok lagi bisa, tapi diberitahukan dulu, imbaunya.

Akhirnya, pukul 19.30 WIB warga yang dikomandoi Geuchik Sayuthi AR meninggalkan BRR. Ini kami lakukan untuk menghargai polisi, bukan BRR. Kami akan kembali lagi mendatangi BRR setelah semua izin kami penuhi, ujarnya. (muk/is)

Sumber : Serambi Indonesia
Tambah ke: Add to your del.icio.us del.icio.us | Digg this story Digg

Komentar ( dikirim):

Beri Komentar comment

Masukkan kode gambar yang anda lihat pada gambar dibawah ini:

  • email Email to a friend
  • print Cetak
  • Plain text Plain text
Tags
No tags for this article
Rate this article
0
Powered by KP4D CMS